Yang Pertama Dari Wanita Penggenggam Bara Api…

 

subhanallah

subhanallah

Dialah wanita shalihah itu, yang hidup bersama sang suami dalam naungan kerajaan Fir’aun. Suaminya adalah orang dekat Fir’aun, sedangkan ia sendiri adalah pembantu dan pengasuh puteri – puteri Fir’aun.

Allah Ta’ala mengaruniakan keimanan kepada keduanya. Sang suami tidak sabar memberitahukan kepada Fir’aun, sehingga Fir’aun pun membunuhnya.

Sang isteri tetap bekerja di rumah Fir’aun sebagai penyisir rambut puteri – puteri Fir’aun. Ia menafkahi anak – anaknya dan memberi mereka makan sebagaimana kasih sayang seorang induk burung yang memberi makan anak – anaknya.

Suatu hari…, ketika ia menyisir rambut seorang puteri Fir’aun, terjatuhlah sisir dari genggamannya.

“Bismillah.” ucapnya.

“Allah,,,??? Kenapa bukan ayahku?” sergah sang puteri Fir’aun.

“Tidak, tetapi Allah!” Rabb-ku, Rabb-mu dan Rabb ayahmu.” jawab sang penyisir kepada puteri Fir’aun.

Namun sang puteri tidak rela apabila ada yang disembah selain ayahnya. Dan segera ia kabarkan hal itu kepada ayahnya. Fir’aun merasa heran ada orang di dalam istananya yang menyembah selainnya. Fir’aun pun memanggil sang penyisir rambut.

“Siapa rabb-mu?” tanyanya.

“Rabb-ku dan Rabb-mu adalah Allah.” jawabnya.

Dia pun menyuruhnya untuk segera murtad dari agamanya. Fir’aun kemudian mengurung dan memukuli sang penyisir, namun usaha Fir’aun tersebut tak juga membuat sang penyisir murtad. Fir’aun minta disediakan tungku/panci dari tembaga yang dipenuhi minyak lalu dibakar hingga mendidih.

Wanita tersebut diberdirikan di hadapan tungku tadi. Melihat siksaan itu, ia malah yakin bahwa dirinya hanyalah sebuah jiwa yang ketika keluar, ia pun akan segera menjumpai Allah Ta’ala. Fir’aun tahu, insan terkasih wanita itu adalah kelima buah hatinya , anak – anak yatim yang ia perjuangkan dan ia nafkahi. Dia hendak menambah siksaannya dengan menghadirkan kelima anaknya yang masih belia.

Mata mereka tampak kebingungan, mereka anak – anak manis itu tidak tahu hendak digiring ke mana…Ketika melihat sang ibu, mereka langsung mendekap erat sambil menangis. Sang ibu lantas tundukkan badan, memeluk, mencium dan mengecup mereka sambil menangis tersedu. Ia dekap yang terkecil di antara mereka. Ia dekap ke dadanya dan ia peluk…

Melihat pemandangan ini, Fir’aun memerintahkan tentaranya untuk mengambil anak sulungnya. Para tentara itu segera menyeret untuk menceburkannya ke dalam minyak yang tengah mendidih. Sang anak memanggil – manggil ibunya. Ia meminta tolong sambil memelas di hadapan para tentara dan mengiba kepada Fir’aun. Ia terus meronta, berusaha melepaskan dan melarikan diri.

Ia memanggil – manggil adik – adiknya, ia pukuli para tentara dengan kedua tangan mungilnya. Para tentara pun menampar dan mendorongnya. Sang ibu hanya bisa memandang dan melepaskan kepergiannya.

Tak lama berselang anak kecil itu pun dilempar ke dalam minyak. Sang ibu hanya bisa menangis sambil memandanginya, sedangkan saudara – saudaranya menutup mata mereka dengan tangan – tangan mungil mereka. Hingga tatkala daging tubuh bagian atasnya yang ringkih meleleh dan tulang belulangnya yang putih mengambang di atas minyak. Fir’aun lantas memalingkan pandangannya kepada sang ibu dan menyuruhnya untuk kufur kepada Allah. Namun sang ibu menolak.

Fir’aun pun murka, ia menyuruh untuk mengambil anak keduanya. Ia ditarik paksa dari sisi sang Ibu. Ia meraung – raung minta tolong. Hanya beberapa saat berselang, iapun dilemparkan ke dalam minyak. Lagi – lagi sang ibu, hanya bisa tertegun memandangnya. Hingga tulang – belulangnya yang putih mengapung dan bercampur dengan tulang saudaranya. Sang ibu tetap tegar dalam agamanya. Ia yakin akan perjumpaan dengan Rabb-nya.

Fir’aun kembali menyuruh para tentara untuk mengambil anak ketiga. Ia langsung diseret dan didekatkan ke tungku yang tengah mendidih itu. Ia segera diangkat dan diceburkan ke dalam minyak tadi. Ia pun mengalami nasib serupa dengan kedua kakaknya.

Tetapi sang ibu tetap kokoh dalam agamanya…

Fir’aun kemudian menyuruh untuk melempar anak keempat ke dalam minyak. Para tentara segera mendatanginya. Ia masih kecil. Ia masih bergelayut di baju Ibunya. Ketika para tentara menariknya, ia menjerit sambil memegangi kedua kaki sang ibu, sedangkan sang ibu berusaha menggendongnya bersama adiknya.

Ia berusaha melepas kepergiannya, mencium dan mengecupnya sebelum berpisah. Para tentara itu pun memisahkan keduanya. Mereka raih kedua tangan mungil lalu menyeretnya, sementara ia terus dan terus menangis minta tolong. Ia merajut dengan kata – kata yang belum dapat dimengerti. Akan tetapi mereka tidak juga mengasihaninya…

Beberapa saat kemudian ia pun ditenggelamkan ke dalam minyak yang mendidih. Jasadnya lenyap dan suaranya hilang, disusul sang ibu mencium aroma daging. Tulang belulangnya yang kecil nan putih naik ke permukaan minyak yang menyemburkannya. Sang ibu memandangi tulang belulang itu. Sang anak telah meniggalkannya ke negeri lain. Ibu hanya bias menangis, tercacah oleh perpisahan dengan buah hati…

Teringatlah dalam benak sang ibu, betapa dahulu ia mendekapnya ke dada dan menyusukannya. Seringkali ia terjaga ketika si buah hati bangun dari tidurnya dan menangis karena tangisannya. Entah berapa malam ia telah habiskan di pangkuan sang ibu sambil memain – mainkan rambutnya. Entah berapa kali sang ibu harus ambilkan mainan – mainannya dan ia kenakan pakaian kepadanya…

Namun tetap ia paksakan dirinya untuk tetap tegar dan terus bertahan.

Para tentara itu memandangi dan segera mendatanginya. Mereka renggut anak kelima yang masih menyusu itu dari kedua tangan ibundanya, padahal ia sedang mengulum puting ibunya…

Terlepas dari ibunya, se kecilpun menjerit dan menangislah wanita malang itu. Tatkala Allah ta’ala melihat penghinaan besar terhadap sang ibu, juga kehilangan dan kesedihannya akan kepergian sang anak, Dia buat si kecil yang masih dalam buaian itu berbicara…!

“Wahai Ibu,” sapanya

“Bersabarlah, kerena sesungguhnya engkau berada di atas kebenaran.”

Suara itu tak terdengar lagi olehnya. Si bungsu segera dibenamkan ke dalam tungku bersama saudara – saudaranya yang lain. Sang bayi ditenggelamkan ke dalam minyak ketika mulutnya masih menyisahkan susu dan di tangannya tersangkut sehelai rambut sang ibu dan di bajunya tersisa air mata sang ibunda…

Kelima anaknya-pun pergilah sudah…Di sana, tulang – belulang mereka berkilapan dari dalam tungku. Gumpalan – gumpalan daging mereka tersembur bersama minyak. Wanita malang itu hanya mampu melihat…pada tulang belulang kecil itu…

Tulang belulang siapa? Mereka tak lain adalah putra – putranya yang telah memenuhi rumahnya dengan tawa dan bahagia…mereka adalah permata hatinya…belahan jiwanya…yang ketika berpisah dengan mereka seakan hatinya tercabut dari rongga dadanya.

Sering mereka berlarian dan berhamburan ke hadapannya…lalu sang ibu mendekap erat mereka di dadanya. Lalu ia kenakan baju mereka dengan tangannya. Ia usap linangan air mata mereka dengan jemarinya…Tetapi sekarang…inilah mereka, yang dirampas dari hadapannya, mereka dibunuh di depan kedua matanya. Mereka tinggalkan ia sendiri…mereka pergi darinya…dan sebentar lagi ia akan bersama mereka.

Bisa saja ia menyelamatkan mereka dari siksa ini dengan kalimat kufur yang ia perdengarkan kepada Fir’aun. Namun ia sadar, apa yang ada di sisi Allah lebih baik dan kekal.

Kemudian tatkala tak ada lagi yang tersisa kecuali dirinya, para tentara pun segera mendatanginya bagai anjing – anjing buas. Mereka mendorongnya ke depan tungku. Ketika mereka mengangkat tubuhnya dan hendak melemparkan ke dalam minyak, ia pandangi tulang – belulang anaknya. Terbayang olehnya kebersamaan mereka dalam kehidupan ini. Lalu ia palingkan pandangannya kepada Fir’aun.

“Aku minta kau kabulkan permintaanku…!” ucapnya.

“Apa permintaanmu…???” teriak Fir’aun.

“Kumpulkanlah tulang – tulangku dengan tulang anak anakku dan kuburkan dalam satu kuburan,” pintanya.

Ia pejamkan matanya, lalu ia pun dilemparkan ke dalam tungku. Jasadnya pun mengambang dan tubuhnya pun terpanggang.

Subhanallah…

Agung nian ketabahan wanita penyisir rambut ini…Betapa banyak pahalanya.

Pada malam isra’, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat sebagian besar kenikmatan yang diraihnya. Maka, beliau ceritakan hal itu kepada para sahabat. Dalam riwayat al Baihaqi, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menuturkan…

“Ketika aku di isra’kan, terhembuslah kepadaku aroma yang harum semerbak. Akupun bertanya, “aroma apa ini?” Maka dikatakan kepadaku,” Ini adalah wanita penyisir rambut puteri Fir’aun dan anak – anaknya.”

Allahu Akbar…

Wanita itu berlelah sebentar, namun kemudian banyak bersenang – senang…

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup[1] disisi Tuhannya dengan mendapat rezki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka[2], bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman. (Yaitu) orang-orang yang mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan diantara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar.” (QS. Ali ‘Imran : 169-172)

Wanita mukminah ini telah pergi menemui Penciptanya dan kini ia telah berada di sisi Rabb-nya.

Saat ini diharapkan ia tengah berada di kebun – kebun dan dungai di tempat yang ia senangi, di sisi Raja yang berkuasa. Saat ini juga keadaannya lebih baik disbanding ketika di dunia, lebih berlipat nikmat dan kecantikannya…

Nabi yang mulia bersabda…

“Seandainya seorang wanita penduduk surga muncul ke hadapan penduduk bumi, niscaya teranglah antara keduanya dan ia pun akan memenuhinya dengan aroma wangi. Sungguh, kerudung yang ada di kepalanya lebih baik daripada dunia dan isinya…!” (HR. Al Bukhari no.2796 dari Ans ibn Malik)

Kemudian beliau menuturkan lagi…

“Barangsiapa yang masuk surga, maka ia akan mendapatkan kenikmatan dan tidak akan pernah sengsara, pakaiannya tidak pernah usang, dan masa mudanya tidak akan sirna. Di dalam Surga, ia memiliki apa yang tidak terlihat oleh mata, tidak pernah terdengar oleh telinga manusia dan tidak pernah terlintas dalam hati manusia. Barangsiapa masuk surge, maka dia akan terlupa akan kesengsaraan di dunia.” (HR. Muslim, dlm buku Silsilah ash Shahihah no. 1086)

Maka, dari benak hati kita yang mana… kita tidak mau menyusul ibunda sang penyisir rambut ini…???

Wahai akhwat, renungkanlah…

Wahai ikhwan, perhatikanlah…

Wahai diri kami yang hina ini, bersegeralah menuju kebaikan…

(dikutip dari risalah Kemuliaan Muslimah Penggenggam Bara Api,Dr. Muhammad ibn ‘Abdirrahman al ‘Uraifi, Media Tarbiyah I/10-18)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: